Bayangkan dunia di mana sekolah tidak ada—bukan sebagai penjara bel dan meja, tapi sebagai ruang belajar yang sesungguhnya bebas. Ivan Illich, filsuf radikal asal Austria yang awalnya rohaniawan, berani membayangkan hal itu dalam manifesto meledaknya tahun 1971, Deschooling Society.
Saya melihat Illich bukan sebagai pemimpi, tapi sebagai pembawa obor yang membongkar sekolah wajib sebagai alat penindasan institusional. Di era jebakan kredensial dan epidemi kelelahan, idenya masih relevan: bongkar monopoli sekolah, lepaskan jaringan sukarela, dan rebut pendidikan untuk rakyat. Illich bukan sekadar mereformasi sistem—ia menyerukan penghapusannya.
Lahir tahun 1926 di Wina dari ayah Kroasia dan ibu Yahudi Sephardic, Illich melarikan diri dari penganiayaan Nazi, mendarat di New York pada 1941. Ditahbiskan sebagai imam tahun 1951, ia melayani di kawasan kumuh Puerto Rico, menyaksikan langsung bagaimana "bantuan" institusi menghancurkan otonomi lokal.
Pada 1961, ia mendirikan CIDOC di Cuernavaca, Meksiko—pusat belajar radikal yang memadukan imersi bahasa dengan kritik modernitas. Di sana, di tengah pemberontakan mahasiswa global, Illich mengasah pedangnya melawan pendidikan industri.
Deschooling Society bukan reformasi sopan; itu bom molotov. "Banyak siswa, terutama yang miskin, secara intuitif tahu apa yang sekolah lakukan untuk mereka. Sekolah membuat mereka membingungkan proses dan substansi," gumamnya. Pendidikan universal menginstitusionalisasikan belajar, mengubah rasa ingin tahu menjadi komoditas yang diukur dengan kredit dan ijazah.
Indikmen inti Illich? Sekolah menciptakan kelangkaan buatan pengetahuan. Di masyarakat pra-industri, belajar mengalir bebas—magang, lingkaran cerita, kebijaksanaan komunitas. Pendidikan wajib, lahir dari negara abad ke-19, memonopoli ini: guru sebagai pendeta, buku teks sebagai kitab suci, kehadiran sebagai iman.
Sekolah menyortir anak ke hierarki—pemenang ke jalur elit, pecundang ke kelas bawah—mempertahankan ketidaksetaraan di balik "meritokrasi." Anarcho-sosialis tulen, Illich menolak kontrol atas-bawah demi "alat convivial": teknologi sederhana yang dikendalikan pengguna untuk saling bantu. Sekolah? Kebalikannya—pabrik pengasingan yang memproduksi drone "terdidik" untuk penggilingan kapitalisme.
Rancangannya? Empat "pertukaran keterampilan" radikal.
- Pertama, pusat rujukan yang menghubungkan pembelajar dengan rekan—misalnya menghubungkan anak mekanik Jakarta dengan coder Bekasi untuk pelajaran barter.
- Kedua, bank keterampilan di mana siapa pun menyetor keahlian, ditarik bebas—tanpa kredensial.
- Ketiga, pencocokan rekan via komputer (nabi untuk app hari ini), memasangkan minat sains kelas.
- Keempat, "jaringan belajar" akses terbuka terhubung ke perpustakaan, museum, lab. Tanpa paksaan, tanpa nilai—hanya pertukaran gembira, horizontal.
Kritikus mencemooh: kekacauan! Illich balas dengan bukti. Ia kutip kelompok adat tak terskolahi yang subur via permainan dan bimbingan, serta eksperimen awal seperti Summerhill.
Maju cepat: ledakan homeschooling AS (lebih dari 5 juta anak pada 2025) dan MOOC global memvalidasi—Khan Academy catat miliaran jam mandiri. Namun institusi melawan. Kredensialisme berkuasa; bot HR tetap menuntut ijazah meski 50% lulusan underemployed. Kesehatan mental ambruk: kecemasan remaja tiga kali lipat sejak era Illich, terkait stres sekolah.
Dari singgasana anarcho-sosialis, Illich membongkar sekolah sebagai kontra-revolusioner. Ia mengatomisasi komunitas, melatih ketaatan, menyokong perbudakan upah.
Pembebasan sejati? Majelis komunitas merancang "jaringan" lokal—ladang kota ajar ekologi, koperasi coding app keuangan mutual. Di Bekasi yang rawan banjir, bayangkan jaring pembelajaran saling bertukar kebijaksanaan madrasah dengan teknologi kebencanaan, bebas ujian hafalan. Illich peringatkan pendidikan "iatrogenik"—merugikan lebih daripada membantu—seperti dokter kebanyakan resep. Sekolah iatrogenik membunuh keajaiban, lahirkan apati.
Karya akhir Illich dalami api: Tools for Conviviality (1973) hantam mega-tech pusatkan kekuasaan; Medical Nemesis (1975) paralel kelebihan sekolah. Diusir dari imamat 1969 karena menantang hierarki Vatikan, ia hidup asketis hingga 2002, mempengaruhi eco-anarkis dunia. Pengkritik sebut Luddite; ia visioner—prafiguring open-source, makerspace, unschooling.







